Hampir setiap Hari Jumat aku melaksanakan ibadah jumat di salah satu mesjid kebanggaan masyarakat Riau, Pekanbaru khususnya. yaitu mesjid Agng Annur. Kemegahan mesjid ini membuat masyarakat Pekanbaru bangga. Setelah bekerja di Pekanbaru hampir setiap jumat aku selalu Ibadah disana, ya karena mesjid ini kebetulan deket dari kantorku. Dan mesjid yang semegah itu ada fenomena didalamnya. Lagi-lagi ga jauh beda dengan apa yang aku temukan di perempatan jalan Pekanbaru yang aku tuangkan beberapa hari yang lalu di blog ini.
Fenomena itu sangat bertolak belakang dengan megahnya gedung ibadah ini. aku disini tidak mempermasalahkan tempat ibadahnya, namun beberapa sosok manusia yang mengais rejeki dengan meminta belas kasihan khalayak ramai yang ingin melakukan ibadah jumat di mesjid ini. lagi-lagi miris, melihat saudara-saudara kita yang kurang sempurna “maaf” secara fisik yang tidak sama seperti kita. namun tidak banyak ibu-ibu membawa anak balitanya yang sedang tertidur di pangkuan si Ibu sambil mengharapkan belas kasihan, bahkan anak-anak kecil yang aku lihat jika mereka sekolah ya sepantaran SD,mereka membawa kotak kecil duduk rapi di pinggiran lorong itu dengan wajah polos berharap recehan dari jemaah yang lalu lalang.
Ada beberapa pertanyaan yang ada di benakku setiap aku kesana. Baca entri selengkapnya »

Namun, setelah aku kembali ke kota bertuah ini, ternyata semua sudah berubah, kota yang sudah mulai padat dengan kendaran-kendaraan mewah, asap pembuangan kendaraan yang semakin semakin bertambah dan bahkan di setiap perempatan dan pertigaan sudah banyak manusia yang memakai baju lusuh dengan kotak di tangan mereka berjalan dari pintu ke pintu mobil mengharapkan belas kasihan dari sang juragan yang berada di singgasana berjalan dan beroda 4 di trafic light. Dengan wajah letih dan lusuh mereka cuma berkata “permisi pak, permisi buk, kasihani kami”. hati ku cuma bisa berkata, “ini sudah sama dengan metropolitan” wajah2 seperti ini sudah ada di kota ku. ya kita kesampingkan dulu pengemis itu “jujur atau bohong” dengan kaki satu ngesot di jalanan mendekati mobil itu. itulah pemandangan ku setiap pagi dan malam sepulang kerja.
Semua warga di daerah lain merasakan tidur nyenyak di malam hari dengan suasana terang dan membuat hati lapang walau beban hidup terutama perekonomian dalam masa krisis. Siang hari melakukan aktifitas dengan nyaman tanpa memikirkan detik, menit, jam mati lampu. Perekonomian dan usaha berjalan dengan baik, dalam akademis mereka tidak terganggu, tidak pernah merasakan belajar di temanin oleh gelap yang mendera.